BREAKING NEWS

“Siapa yang Mengajarkanmu Tentang Cinta?” Novel After the Broery Song Telusuri Luka Masa Kecil hingga Cara Mencintai

11
×

“Siapa yang Mengajarkanmu Tentang Cinta?” Novel After the Broery Song Telusuri Luka Masa Kecil hingga Cara Mencintai

Sebarkan artikel ini

Jakarta, Portal Nasional – Siapa yang Mengajarkanmu Tentang Cinta? After the Broery Song, Novel yang Mengajak Pembaca Menelusuri Luka Masa Kecil hingga Cara Seseorang Mencintai.

Novel fiksi bergenre drama psikologis ini telah diluncurkan 10 September 2026, dan hadir dalam format Pre-Order dan E-Book.

Novel fiksi bergenre drama psikologis After the Broery Song karya ke-6 Dita Cahya Ningrum. Foto: Istimewa

Bagaimana jika orang pertama yang mengajarkan kita tentang cinta justru adalah seseorang yang membuat kita memahami rasanya tidak dicintai?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pintu masuk dalam After the Broery Song, karya Dita Cahya Ningrum, sebuah novel fiksi drama yang membawa pembaca mengikuti perjalanan Jenina seorang perempuan yang tumbuh bersama pengalaman keluarga, kehilangan, rasa tidak dianggap, dan pencarian akan rasa aman yang kemudian ikut membentuk cara ia mencintai ketika dewasa.

Buku ini tidak sekadar bercerita tentang keluarga yang tidak sempurna atau hubungan percintaan yang rumit. Lebih dalam, After the Broery Song mempertanyakan bagaimana pengalaman masa kecil dapat menetap dalam diri seseorang dan muncul kembali ketika ia mulai membangun hubungan dengan orang lain.

“Kadang kita mencari rasa aman di dalam diri seseorang karena dulu kita tidak pernah benar benar menemukannya di rumah.”

Kalimat tersebut menjadi salah satu benang merah perjalanan Jenina.

Ketika Rumah Tidak Selalu Berarti Tempat untuk Pulang

Kisah Jenina dimulai sejak kelahirannya. Dalam cerita, Papa tidak hadir ketika Mama berjuang melahirkannya. Ketidakhadiran tersebut kemudian menjadi pengalaman yang berulang hingga Jenina kecil perlahan memahami bahwa orang yang diharapkannya hadir tidak selalu datang. Namun, luka itu tidak selalu hadir dalam bentuk kejadian besar.

Salah satu adegan yang menggambarkan hal tersebut terjadi ketika Jenina pergi bersama Papanya ke Ramayana. Ia sempat berharap akan mendapatkan sesuatu untuk dirinya. Namun, Papa justru memilihkan pakaian untuk anak-anaknya yang lain, sementara Jenina hanya diminta membantu menentukan ukuran dan kecocokan pakaian tersebut. Bagi Jenina, yang hilang bukan sekadar kesempatan mendapatkan sebuah baju. Ia kehilangan perasaan sebagai seseorang yang dipilih.

Pengalaman-pengalaman sederhana seperti inilah yang menjadi kekuatan cerita ini. luka tidak selalu datang melalui peristiwa besar. Terkadang, luka justru tumbuh dari hal-hal kecil yang terus berulang.

Papa Bukan Tempat untuk Pulang

Salah satu tema sentral novel ini adalah hubungan Jenina dengan sosok ayah. Alih-alih mendapatkan perlindungan, Jenina justru mengalami ketakutan ketika mencoba mendekatinya. Dalam salah satu adegan, ketika Jenina kecil membawa kopi untuk Papanya, sebuah asbak dilemparkan ke arahnya hingga kopi panas mengenai jemarinya.

Namun, justru setelah kejadian tersebut, muncul salah satu kalimat yang paling sederhana sekaligus penting dalam perjalanan Jenina.

Ini bukan salahmu

Kalimat dari Emak tersebut menjadi bentuk perlindungan yang berbeda: bukan perlindungan yang menghapus masalah, tetapi sebuah pengingat bahwa seorang anak tidak seharusnya merasa bersalah atas luka yang diberikan kepadanya.

Di usia yang masih sangat muda, Jenina kemudian memahami satu hal yang sulit: Papa bukan tempat untuk pulang.

Mengapa “After the Broery Song”?

Judul buku ini mengambil makna dari sebuah lagu Broery Marantika tentang ayah yang hadir dalam pengalaman masa kecil Jenina. Lagu tersebut terdengar dari radio mobil Papa dan kembali muncul ketika Jenina berada di Ramayana. Namun, ada ironi di baliknya.

Lagu tersebut menggambarkan kerinduan dan sosok ayah yang seharusnya menjadi tempat pulang, sementara realitas yang dialami Jenina justru berbeda.

Dari sanalah muncul pertanyaan yang menjadi ruh judul buku Apa yang terjadi setelah lagu itu selesai? Ketika musik berhenti, seseorang harus kembali menghadapi kenyataan. Dan bagi Jenina, kenyataan tersebut adalah kehidupan yang sejak kecil membuatnya harus mencari sendiri arti tentang rasa aman, kasih sayang, dan rumah.

Dari Luka Keluarga hingga Hubungan Percintaan Ketika Jenina dewasa, pencarian tersebut menemukan bentuk baru melalui hubungan percintaan. Ia menemukan seseorang yang memberinya rasa aman dan perlindungan sesuatu yang selama ini begitu ia butuhkan.

Tetapi di sinilah cerita mulai memasuki wilayah yang lebih kompleks. Apakah kita benar-benar jatuh cinta kepada seseorang, atau kepada rasa aman yang kita rasakan ketika bersamanya.

After the Broery Song kemudian membawa pembaca melihat bagaimana luka masa lalu dapat memengaruhi pilihan seseorang dalam hubungan, bagaimana ketergantungan emosional dapat terbentuk, dan bagaimana perhatian serta romantisme tidak selalu menjadi tanda bahwa sebuah hubungan berjalan secara sehat.

Novel ini juga mengajak pembaca melihat satu hal penting yaitu memahami luka seseorang tidak berarti kita harus menerima luka yang ia berikan kepada kita.

Tidak Semua yang Tinggal di Rumah Adalah Sumber Luka Meski membawa tema yang berat, After the Broery Song tidak hanya berbicara tentang kehilangan.

Di tengah pengalaman Jenina, hadir Mama, Eyang, dan Emak figur figur yang memberikan bentuk kasih sayang berbeda. Emak, khususnya, menjadi salah satu sosok yang memberikan Jenina rasa aman ketika keadaan rumah membuatnya tertekan.

Ia tidak mengubah kehidupan Jenina, tetapi kehadirannya menjadi bukti bahwa seseorang tetap dapat menemukan kebaikan bahkan ketika tumbuh dalam keadaan yang tidak mudah. Bahkan sejak kecil, Mama juga menanamkan keberanian melalui sebuah dongeng sederhana berjudul “Kochi Si Anak Pemberani”, yang ditulis khusus untuk Jenina dan berisi harapan agar ia tumbuh berani menghadapi rintangan.

Karena itu, After the Broery Song bukan hanya cerita tentang bagaimana seseorang terluka. Ini juga cerita tentang orang-orang yang membuat seseorang tetap mampu tumbuh.

Dita Cahya Ningrum: Menulis Luka yang Tidak Selalu Terlihat Bagi Dita Cahya Ningrum, Jenina bukan sekadar karakter yang mengalami berbagai konflik. Ia adalah seseorang yang membawa pertanyaan tentang bagaimana masa lalu membentuk seseorang ketika dewasa.

Melalui gaya penceritaan yang emosional dan dekat dengan pembaca muda, Dita mencoba menghadirkan sebuah cerita yang tidak hanya mengajak pembaca mengikuti perjalanan karakter, tetapi juga bercermin pada pengalaman mereka sendiri. Sementara itu, Vie Asano, selaku editor, berperan dalam mengolah naskah agar konflik, karakter, dan lapisan emosional dalam cerita dapat tersampaikan secara lebih utuh kepada pembaca.

“Pada akhirnya, saya tidak ingin pembaca hanya bertanya apa yang terjadi pada Jenina. Saya ingin mereka bertanya: apakah ada bagian dari dirinya yang ternyata juga ada dalam diri saya?”

Apakah cara mereka mencintaimu masih memengaruhi cara kamu mencintai orang lain hari ini Pertanyaan itulah yang ingin dibawa After the Broery Song kepada pembacanya. Bukan untuk memberikan satu jawaban. Tetapi untuk mengajak setiap orang menemukan jawabannya sendiri. (red)